Selasa, 15 Oktober 2019

PENGOLAHAN_LIMBAH_KIMIA

PENGOLAHAN LIMBAH KIMIA


1.1  PENGERTIAN LIMBAH KIMIA

Limbah kimia adalah limbah yang mengandung zat kimia yang berbentuk padat, cair, gas yang berasal dari aktivitas diagnostic dan eksperimen serta dari pemeliharaan kebersihan aktivitas keseharian, dan prosedur pemberian disinfektan. Limbah kimia dari instalasi kesehatan bisa berupa    limbah berbahaya.

Limbah laboratorium adalah buangan yang berasal dari laboratorium. Dalam hal ini khususnya adalah laboratorium kimia. Limbah ini dapat berasal dari bahan kimia, peralatan untuk pekerjaan laboratorium dan lain-lain. Limbah laboratorium ini mempunyai resiko berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup.

Sebagai limbah, kehadirannya cukup  mengkhawatirkan terutama yang  bersumber dari laboratorium kimia. Bahan beracun dan berbahaya banyak digunakan di laboratorium kimia. Beracun dan berbahaya dari limbah ditunjukkan oleh sifat fisik dan kimia bahan itu sendiri, baik dari jumlah maupun kualitasnya. Beberapa kriteria berbahaya dan beracun telah ditetapkan  antara lain mudah terbakar, mudah meledak, korosif, oksidator dan reduktor, iritasi bukan radioaktif, mutagenik, patogenik, mudah membusuk dan lain-lain. Dalam jumlah tertentu dengan kadar tertentu, kehadirannya dapat merusak kesehatan bahkan mematikan manusia atau  kehidupan lainnya sehingga perlu ditetapkan batas-batas yang diperkenankan dalam lingkungan pada waktu tertentu.

1.2 SUMBER-SUMBER LIMBAH LABORATORIUM

Adanya bahan kimia di universitas di mulai dari pemberian bahan yang diperlukan dari gudang bahan kimia kepada pekerja atau mahasiswa yang mengambil mata kuliah praktik di laboratorium. Bahan tersebut digunakan untuk sintesis maupun analisis. Karena tujuan penggunaannya maka terbentuk bahan awal, produk samping, pelarut yang digunakan dan bahan kimia yang terkontaminasi, dimana bahan ini harus diurai atau dibuang jika daur ulangnya tidak mungkin dilakukan. Berlawanan  dengan  limbah industri, limbah kimia dari laboraotrium di universitas yang terbentuk biasanya dalam jumlah kecil dari campuran yang sangat kompleks. Intinya, hal ini menyatakan jumlah limbah yang berarti, yang harus dibuang  dari universitas dengan menggunakan dananya sendiri.

Untuk membuang limbah laboratorium, yang mungkin berbeda pada tempat yang berbeda pula, cara  yang sesuai bergantung pada tipe percobaan yang dilakukan dan bahan kimia yang digunakan. Tetapi beberapa tipe limbah berbahaya yang dihasilkan tidak dapat dibuang dalam bentuk aslinya dan harus diolah terlebih dahulu. Dengan bantuan proses yang sesuai, limbah tersebut dapat dihilangkan sifat racunnya di tempat bahan tersebut dihasilkan. Keuntungan dari penghilangan sifat racun juga mengurangi resiko kontaminasi pada pekerja yang tidak berpengalaman dalam menanganinya bila terjadi kecelakaan dengan limbah ini, oleh karena itu hal ini juga untuk  menghindari resiko terhadap  kontaminasi lingkungan.

Dalam skala laboratorium universitas limbah yang dihasilkan tidaklah sebanyak yang dihasilkan oleh  industri. Pada hakikatnya, pengolahan limbah adalah upaya untuk memisahkan zat pencemaran dari cairan ataupun padatan. Walaupun volumenya kecil, konsentarsi zat pencemar yang telah dipisahkan itu sangat tinggi. Selama ini, zat pencemar yang sudah dipisahkan itu (konsentrat) ini belum tertangani dengan baik, sehingga terjadi akumulasi zat berbahaya yang setiap saat mengancam  keselamatan lingkungan hidup.

1.3 DAMPAK LIMBAH LABORATORIUM

Limbah laboratorium tidaklah banyak, hanya sekitar 1 liter tiap harinya, itupun dalam konsentrasi      yang telah dinetralkan. Namun  karena  ada saja kemungkinan buruk yang ditimbulkan oleh limbah labratorium, maka pengolahan limbah  laboratorium pun perlu mendapat perhatian.

1.4 PEMBUANGAN LIMBAH LABORATORIUM

Secara umum, metoda pembuangan limbah laboratorium terbagi atas empat metoda:
1. Pembuangan langsung dari laboratorium.
Metoda pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium. Untuk bahan kimia sisa  yang mengandung asam atau basa harus dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung logam-logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang.

2. Pembakaran Terbuka.
Metoda pembakaran terbuka dapat diterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-bahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan  jauh dari pemukiman penduduk.

3. Pembakaran Dalam Insenerator.
Metoda pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar  ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik.

 4. Penguburan.
Dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun.

1.5 PENANGANAN DAN PEMUSNAHAN BAHAN KIMIA TUMPAHAN

Disamping metoda-metoda yang telah  disebutkan diatas, terdapat beberapa jenis  tumpahan bahan kimia sisa yang perlu mendapatkan perlakuan khusus sebelum dibuang keperairan. Bahkan diantaranya perlu dimusnahkan sebelum dibuang. Diantara bahan-bahan kimia tersebut antara lain :

a. Tumpahan Asam-asam Anorganik
Tumpahan asam-asam anorganik seperti HCl, HF, HNO3, H3PO4, H2SO4 haruslah diperlakukan penanganan khusus. Bahan tumpahan  tersebut permukaannya ditutup dengan NaHCO3 atau campuran NaOH dan Ca(OH)2 dengan perbandingan 1:1. Selanjutnya diencerkan  dengan air supaya berbentuk bubur dan selanjutnya dibuang ke bak pembuangan air  limbah.

b. Basa Akali dan Amonia
Tumpahan basa-basa alkali dan ammonia seperti amonia anhidrat, Ca(OH)2, dan NaOH dapat ditangani dengan mengencerkannya dengan air dan dinetralkan dengan HCl 6 M. Kemudian diserap dengan kain dan dibuang.

c. Bahan-Bahan Kimia Oksidator
Tumpahan bahan-bahan kimia oksidator (padat maupun cair) seperti amonium dikromat, amonium perklorat, asam perklorat, dan sejenisnya dicampur dengan reduktor (seperti garam hypo, bisulfit, ferro sulfat) dan ditambahkan sedikit asam sulfat 3 M. selanjutnya campuran  tersebut dinetralkan dan dibuang.

d. Bahan-Bahan Kimia Reduktor
Tumpahan bahan-bahan kimia reduktor ditutup atau dicampurkan dengan NaHCO3 (reaksi selesai) dan dipindahkan ke suatu wadah. Selanjutnya kedalam campuran tersebut ditambahkan Ca(OCl)2 secara perlahan-lahan dan air (biarkan reaksi  selesai). Setelah reaksi selesai campuran diencerkan dan dinetralkan  sebelum dibuang ke perairan.

e. Sianida dan Nitril
Tumpahan sianida ditangani dengan menyerap tumpahan tersebut dengan kertas/tissu dan diuapkan dalam lemari asam, dibakar, atau dipindahkan kedalam wadah dan dibasakan dengan NaOH dan diaduk hingga terbentuk slurry. Kemudian ditambahkan ferro sulfat berlebih dan dibiarkan lebh kurang 1jam dan dibuang keperairan. Pemusnahan sianda dapat dilakukan dengan cara menambahkan kedalamnya larutan asam dan kalsium hipoklorit berlebih dan dibiarkan 24 jam. Selanjutnya dibuang  ke perairan. Untuk tumpahan nitril, ditambahkan  NaOH berlebih dan Ca(OCl)2. setelah satu jam dibuang keperairan. Cuci bekas  wadah dengan larutan hipoklorit. Pemusnahan nitril dilakukan dengan menambahkan kadalamnya NaOH dan alkohol. Setelah 1 jam uapkan alkohol dan ditambahkan larutan basa kalsium hipoklorit. Setelah 24 jam dapat dibuang  ke perairan.




DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/30699021/PENANGANAN_LIMBAH_KIMIA
https://fentafellana.wordpress.com/penanganan-limbah-laboratorium/
https://www.academia.edu/10080980/BAB_II_PENANGANAN_LIMBAH_KIMIA
https://thegorbalsla.com/limbah/




           










Tidak ada komentar:

Posting Komentar